Jumat, 12 Desember 2008

The Curse of The Twilight

~Houdini POV~

Sore itu tampak cerah meskipun keadaan di istana sedang gawat-gawatnya. Houdini tampak berdiri di halaman istana sambil memandangi langit yang menunjukkan bahwa dalam beberapa jam lagi, petang pun akan tiba. Dia tampak gelisah. Gawat! Kalau tugas ini tak kuselesaikan sebelum senja tiba, bisa-bisa... Ah, lebih baik aku mempersiapkan diri terlebih dahulu.

Tak lama, dia pun segera mengganti jas resminya dengan yang lebih longgar dibagian dada, potongannya membuat tubuhnya tampak berlekuk. Warnanya pun abu-abu yang cerah, ditambah dengan celana panjang abu-abu dari bahan cotton dan lycra. Fuh, sudah selesai pikirnya lega.

Selanjutnya dia membaca mantra "Muncullah, Hortez!!" Panggilnya seusai membaca mantra.

Tiba-tiba muncul lingkaran hitam yang berputar-putar bersama warna-warna gelap lainnnya. Makhluk itu mengeluarkan tubuhnya dengan urutan: kedua kakinya, tubuhnya yang penuh sisik mengerikan, kepalanya yang bertanduk seperti naga, lalu ekornya yang keseluruhannya berwarna hitam pekat. Tingginya 5 meter dengan panjang tubuh ditambah ekor 10 meter. Dia tak bersuara dan berbicara kecuali dengan tuannya.

Dia segera berbalik kearah tuannya, menatapnya dengan mata coklatnya, lalu menutup matanya dan menunduk memberi hormat.

Houdini menghampirinya "Ayo, Hortez! Kita tidak punya waktu lagi!"

Hortez pun mengangguk tanda setuju. Houdini pun segera menaiki punggungnya. Tak lama, Hortez pun melesat cepat di angkasa. Tinggal 2 jam lagi, senja akan tiba.

"Sungguh langit yang menyedihkan" ucapnya pelan

~Sara POV~

"Siap Yang Mulia!!!"Seru Nona Haruka dan Tuan Foster demi melaksanakan tugasnya.

Nona Haruka pun segera memindahkan semua meja, kursi dan lainnya dengan sihirnya. Sementara Tuan Foster memposisikan pasukan penyihir dengan urutan dari depan ke belakang: 2, 3, 4, 5 orang penyihir untuk bagian tengah, 4 penyihir dikiri dan kanan. Penyihir cadangan berpatroli dalam istana.

"Yang Mulia!!! Hentikan!!!" Teriak PM Val ketika Ratu Sara berada di posisi paling depan pasukan penyihir.

Ratu Sara makin tidak bisa menahan perasaannya sendiri. Tapi kemudian, dia mencoba mengatasinya dengan menghirup nafas dalam dalam lalu dikeluarkannya. Lalu dia membalikkan badannya seraya berkata

" Anda ini bicara apa? Bukankah sudah tugas pemimpin negara untuk memberi rasa aman pada rakyatnya? Baik itu berada di garis depan dalam pertempuran maupun memberi semangat? Ingatlah, kita adalah pemimpin, bukan penguasa..."

"Tapi Yang Mulia..." Ratu Sara dengan cepat berbalik dan memberi perintah pada Tuan Flute

Behind The Story

Belum disambung, sori... :P

Senin, 08 Desember 2008

Afternoon Tea time

~Sara POV~

Sore itu, Ratu Sara yang memakai gaun biru laut yang sangat indah ditemani Flora yang memakai dress berwarna hijau muda memasuki dining room. Suasana tampak ramai, banyak pejabat-pejabat istana yang datang. Meja-meja bundar dipenuhi teko teh dan cangkir-cangkir dan tak lupa kue-kue sebagai pelengkap acara afternoon tea itu.

Di meja yang dekat dengan jendela yang disinari mentari sore itu, tampaklah PM Val duduk disana menanti Ratu Sara. Wajahnya yang diterpa mentari sore itu tampak memesona. Dalam waktu yang hanya sesaat itu, Ratu Sara sudah melayang-layang di 'kayangan'nya sendiri.

"Yang Mulia...."Panggil Flora pelan; menjatuhkannya dari 'kayangan' itu.

PM Val menoleh ke arahnya.  Akhirnya datang juga

Ratu Sara berkata pada Flora"Ayo, kita bergegas ke sana."

"Baik,Yang Mulia" Jawabnya dengan sigap.

Flora pun membantunya membukakan jalan baginya. Semua orang pun segan pada Ratu Sara dan membukakan jalan baginya seraya memberi hormat. Dalam langkah yang tenang dan anggun, Ratu Sara menghampiri meja PM Val disusul oleh Flora yang berada dibelakangnya. Flora pun segera menarikkan kursi untuknya.

"Flora, duduklah" Ujar Ratu Sara setelah duduk di kursi itu.

"Eh, saya?" Tanya Flora keheranan.

"Tentu saja" Jawab Ratu Sara sambil tersenyum ramah.

"Sungguh suatu kehormatan, Yang Mulia, Terima Kasih banyak" Ucap Flora dengan penuh rasa hormat.

"Sama sama"Jawabnya Sambil tersenyum lagi"Anda juga tidak keberatan kan?"Tanyanya pada PM Val.

"Tentu saja tidak,silakan!"Jawabnya sambil tersenyum.

"Ah, Terima Kasih, Yang Mulia, Tuan Perdana Menteri juga!!" Keduanya pun tersenyum.

Tak lama, datanglah pelayan yang menuangkan teh ke dalam cangkir-cangkir.

"Hmm...aroma ini, Teh Ceylon"Ujar Ratu Sara lalu dia meminumnya sedikit.

"Anda memang jeli, Yang Mulia!"Puji PM Val.

Ratu Sara tersipu malu dalam hati, tapi segera disembunyikan olehnya. Tiba-tiba, terdengar suara alunan musik klasik dari atas panggung.

Sementara itu seraya menikmati cookiesnya untuk menutupi rasa degdegannya, Ratu Sara membuka pembicaraan

"Baiklah, kembali ke tujuan semula. Sebenarnya hal apa yang mau Anda, bicarakan?"

PM Val meminum tehnya seusai melahap sedikit butter rollnya lalu menjawab "Baiklah Yang Mulia, akan saya jelaskan sekarang"

~Houdini POV~

Houdini memasuki ruangan itu dengan langkah cepat; menghindari para fangirlnya dibelakang. Lalu, dia pun secepatnya memilih meja di dekat dinding.  Huff.

"Akhirnya kamu berhasil lepas dari mereka juga ya...."

Houdini menoleh pada pria gemuk bertubuh pendek yang kini ada di samping kursinya

"Silakan duduk, Tuan Flute"

"Ah, Terima Kasih" Ucapnya sambil duduk "Ngomong-ngomong, Tuan Houdini. Tidak biasanya Anda datang ke acara seperti ini, bukan?"

"Memang tidak, hanya saja saya punya janji disini"Jawab Houdini

"Haha...akhirnya Anda punya pendamping juga"

Houdini tersenyum sarkastis"Hoo...sepertinya Anda akan iri pada saya, ya?"

"Hahaha!! Siapa yang tidak iri pada kamu??? Cerdas, tampan, baik hati, punya jabatan yang tinggi lagi...Hahaha!!" Ujar Tuan Flute sambil tertawa.

"Yah, beruntung sekali rasanya dikejar para wanita yang "baik hati" itu"Ujar Houdini dengan nada sarkastis.

"Sudahlah, tidak usah bilang begitu...lagipula nasibmu masih lebih baik..."Ujar Tuan Flute pelan.

Houdini tidak menjawab; perhatiannya tersita pada sesuatu yang aneh yang mendekat di jendela tempat Ratu Sara berada.  Apa itu?

Dia menoleh pada Tuan Flute"Tuan Flute...."

"Ya?"

"Ayo, ikutilah saya!"Ujarnya sambil menarik tangan Tuan Flute.

"Hei, apa-apaan ini?!" Tuan Flute pun segera mengambil Cookies dan berjalan sambil memakannya.

~Sara POV~

"Lantas, bagaimana?"

"Begini, sebenarnya..."

"Yang Mulia, Tuan Val!!! Lihat itu!!!"Teriak Flora sambil menunjuk kearah jendela.

Seraya mengerutkan kening PM Val menoleh "Memangnya kena..."Kemudian dia pun melihat makhluk aneh di depan jendela super besar itu "Pa?"

Sementara itu, tampaklah seorang pria gemuk yang sedang memasang Shield Magic

Kenapa makhluk semacam itu bisa ada disini? Tanya Ratu Sara dalam hati.

"Kyaa!! Makhluk apa itu?!!!"Orang-orang yang berada disana mulai panik. Alunan musik klasik itupun berhenti. Makhluk aneh itu berwarna hitam pekat, matanya berwarna putih, bersayap lebar berbentuk seperti naga, bertanduk melengkung seperti domba Tubuhnya yang tegap itu melayang-layang lalu bersiap seperti ingin menerjang jendela.

"Yang Mulia..."Panggil pria yang berambut panjang dikuncir yang baru saja menghampirinya.

"Apa ada yang ingin Anda sampaikan, Tuan Houdini?"

"Tentu Yang Mulia, ada baiknya dalam kondisi seperti ini kita mengumpulkan para penyihir disini. Lalu mengungsikan yang lainnya ke ruangan lain. Menurut prediksi saya, sepertinya makhluk semacam ini akan muncul lagi nantinya. Kami menunggu tindakan Anda selanjutnya"Jelas Houdini.

"Bagaimana dengan Anda sendiri?" Tanya Ratu Sara "Saya akan menuju The Gate"Jawabnya mantap.

"Baiklah, terima kasih. Segera laksanakan tugasmu!!"

"Siap, Yang Mulia!!" Uajrnya sambil meninggalkan ruangan.

"Flora, tolong panggilkan Nona Haruka dan Tuan Foster kemari" Perintah Ratu Sara.

"Baik yang mulia!!!"

Setelah Flora pergi mencari kedua orang itu, Ratu Sara pun berkata pada PM Val

"Ayo, kita juga bersiap-siap"

PM Val terkejut mendengarnya"Yang Mulia....Jangan bilang kalau Anda..."

Ratu Sara menyelanya"Maaf, tapi sepertinya yang Anda duga itu benar"

Dia pun menukar gaunnya dengan dress penyihir dengan sihirnya. "Yang Mulia...."

Afternoon Tea Party~End~

Minggu, 07 Desember 2008

The Military Advisor, Houdini

Malam itu, seorang gadis kecil berambut hitam lurus yang panjang duduk di sebuah kursi kayu yang agak rapuh didalam gudang. Tampak dirinya yang sedang mencari sesuatu didalam sebuah kotak perkakas.

"Houdini!!!"

Gadis kecil itu pun menoleh untuk mencari sumber suara dengan wajah tenang. Muncullah seorang pria paruh baya yang terengah-engah. Mukanya tampak merah padam menahan kemarahan.

"Houdini!!!" Ujarnya dengan geram.

"Ya....ada apa papa?"Tanya Houdini dengan tenang sambil tersenyum

"Kau ini!!!lagi-lagi masuk ke gudang tanpa izin, membongkar-bongkar isi kotak perkakas. Selain itu kau juga merusakkan barang kesayanganku!!!" Ujarnya menyerocos panjang lebar.

"Hooo!!!"Serunya dengan ekspresi sok terkesima. "Jadi barang rongsokan itu namanya 'Benda Kesayangan', Sayangnya benda itu sama sekali tak tahan lama ya untuk sebuah 'Benda Kesayangan.'?" Balasnya dengan sarkatis sambil tertawa kecil.

"Kau ini!" Ayahnya bertambah marah "Perbaiki atau kau tak dapat makan malam!!".


Houdini tersenyum mengejek "Papa...."Ucapnya dengan pelan tanpa memudarkan senyum sarkastisnya "Aku tidak mau....memangnya untungnya bagiku? Atau bagi papa aku ini hanya pion, hmm?"

Ayahnya bertambah marah sambil mengepalkan tangannya "Kau!!! Kau tidak dapat makan malam dan malam ini tidur diluar!!!"

Houdini bangkit dari duduknya sambil berlalu "Baiklah..."

Ayahnya menatapnya dengan dingin ; hanya memandangnya yang berlalu begitu saja.

******

Houdini tersadar dari lamunannya.
"Aaaah....kenapa aku harus mengingatnya lagi...." Desahnya pelan sambil memegang kepalanya.

Setelah itu, dia segera bangkit dan menyambar jasnya untuk segera bergegas menuju Meeting Hall di lantai 1. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.

"Ya,masuklah" Ujarnya setelah selesai memakai jasnya.

Terdengar suara ketukan high heels dilantai, tampaklah seorang wanita berpakaian serba hitam yang sangat resmi memasuki ruangan.

"Selamat Pagi, Tuan Houdini..." Ucapnya dengan gaya yang sama konservatifnya dengan penampilannya.

"Pagi..."Jawabnya tanpa ekspresi.

Suasana yang begitu resmi dan kaku sangat terasa di ruangan itu. Bahkan bila seandainya ada orang lain yang memasuki ruangan itu, orang itu pasti akan bergegas pergi. Seolah-olah ada badai salju saja disana.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Houdini masih tanpa ekspresi saat wanita itu diam.

"Oh tidak, saya hanya ingin memberitahukan kalau pertemuan di Meeting Hall dibatalkan" Jelasnya pada Houdini.

"Hanya hal itu sajakah yang ingin Anda sampaikan, Nona Lei Ann?"Tanya Houdini untuk memastikan.

"Satu hal lagi, Tuan Perdana Menteri Val meminta Anda untuk menemuinya seusai Afternoon Tea sore ini" Jelasnya lagi.

"Apa tidak ada penjelasan lain mengenai hal itu?"

"Maaf..."Ujarnya dengan pelan tapi tegas "Saya hanya disuruh untuk menyampaikan hal itu saja, penjelasan lengkapnya bisa Anda tanyakan pada Beliau"

"Oh....Baiklah, Terima Kasih"

"Sama-sama,Maaf apa saya sudah boleh pergi?" Tanya Lei Ann.

"Silakan, Nona Lei Ann"

"Baiklah, saya permisi dulu" Lalu Lei Ann pun meninggalkan ruangan.

Tapi tak lama terdengar suara jeritannya dari luar.  Kenapa dia?. Dia pun segera keluar untuk melihat apa yang terjadi. Tampak wanita itu yang mengaduh kesakitan. Sepertinya ia terjatuh setelah keluar tadi.

"Anda tidak apa-apa?" Tanya Houdini sambil mengulurkan tangannya. Lei Ann menyambut uluran tangannya

"Ah, terima kasih!"

Lei Ann menatapnya dengan tatapan yang agak lain, tapi wajah Houdini masih tanpa ekspresi.

"Lain kali,berhati-hatilah" Ujarnya mengingatkan"Apalagi kalau sedang pakai high heels"Ujarnya sambil tanpa basa-basi lagi meninggalkan Lei Ann yang mematung disana menuju ruangannya.