Minggu, 07 Desember 2008

The Military Advisor, Houdini

Malam itu, seorang gadis kecil berambut hitam lurus yang panjang duduk di sebuah kursi kayu yang agak rapuh didalam gudang. Tampak dirinya yang sedang mencari sesuatu didalam sebuah kotak perkakas.

"Houdini!!!"

Gadis kecil itu pun menoleh untuk mencari sumber suara dengan wajah tenang. Muncullah seorang pria paruh baya yang terengah-engah. Mukanya tampak merah padam menahan kemarahan.

"Houdini!!!" Ujarnya dengan geram.

"Ya....ada apa papa?"Tanya Houdini dengan tenang sambil tersenyum

"Kau ini!!!lagi-lagi masuk ke gudang tanpa izin, membongkar-bongkar isi kotak perkakas. Selain itu kau juga merusakkan barang kesayanganku!!!" Ujarnya menyerocos panjang lebar.

"Hooo!!!"Serunya dengan ekspresi sok terkesima. "Jadi barang rongsokan itu namanya 'Benda Kesayangan', Sayangnya benda itu sama sekali tak tahan lama ya untuk sebuah 'Benda Kesayangan.'?" Balasnya dengan sarkatis sambil tertawa kecil.

"Kau ini!" Ayahnya bertambah marah "Perbaiki atau kau tak dapat makan malam!!".


Houdini tersenyum mengejek "Papa...."Ucapnya dengan pelan tanpa memudarkan senyum sarkastisnya "Aku tidak mau....memangnya untungnya bagiku? Atau bagi papa aku ini hanya pion, hmm?"

Ayahnya bertambah marah sambil mengepalkan tangannya "Kau!!! Kau tidak dapat makan malam dan malam ini tidur diluar!!!"

Houdini bangkit dari duduknya sambil berlalu "Baiklah..."

Ayahnya menatapnya dengan dingin ; hanya memandangnya yang berlalu begitu saja.

******

Houdini tersadar dari lamunannya.
"Aaaah....kenapa aku harus mengingatnya lagi...." Desahnya pelan sambil memegang kepalanya.

Setelah itu, dia segera bangkit dan menyambar jasnya untuk segera bergegas menuju Meeting Hall di lantai 1. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.

"Ya,masuklah" Ujarnya setelah selesai memakai jasnya.

Terdengar suara ketukan high heels dilantai, tampaklah seorang wanita berpakaian serba hitam yang sangat resmi memasuki ruangan.

"Selamat Pagi, Tuan Houdini..." Ucapnya dengan gaya yang sama konservatifnya dengan penampilannya.

"Pagi..."Jawabnya tanpa ekspresi.

Suasana yang begitu resmi dan kaku sangat terasa di ruangan itu. Bahkan bila seandainya ada orang lain yang memasuki ruangan itu, orang itu pasti akan bergegas pergi. Seolah-olah ada badai salju saja disana.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Houdini masih tanpa ekspresi saat wanita itu diam.

"Oh tidak, saya hanya ingin memberitahukan kalau pertemuan di Meeting Hall dibatalkan" Jelasnya pada Houdini.

"Hanya hal itu sajakah yang ingin Anda sampaikan, Nona Lei Ann?"Tanya Houdini untuk memastikan.

"Satu hal lagi, Tuan Perdana Menteri Val meminta Anda untuk menemuinya seusai Afternoon Tea sore ini" Jelasnya lagi.

"Apa tidak ada penjelasan lain mengenai hal itu?"

"Maaf..."Ujarnya dengan pelan tapi tegas "Saya hanya disuruh untuk menyampaikan hal itu saja, penjelasan lengkapnya bisa Anda tanyakan pada Beliau"

"Oh....Baiklah, Terima Kasih"

"Sama-sama,Maaf apa saya sudah boleh pergi?" Tanya Lei Ann.

"Silakan, Nona Lei Ann"

"Baiklah, saya permisi dulu" Lalu Lei Ann pun meninggalkan ruangan.

Tapi tak lama terdengar suara jeritannya dari luar.  Kenapa dia?. Dia pun segera keluar untuk melihat apa yang terjadi. Tampak wanita itu yang mengaduh kesakitan. Sepertinya ia terjatuh setelah keluar tadi.

"Anda tidak apa-apa?" Tanya Houdini sambil mengulurkan tangannya. Lei Ann menyambut uluran tangannya

"Ah, terima kasih!"

Lei Ann menatapnya dengan tatapan yang agak lain, tapi wajah Houdini masih tanpa ekspresi.

"Lain kali,berhati-hatilah" Ujarnya mengingatkan"Apalagi kalau sedang pakai high heels"Ujarnya sambil tanpa basa-basi lagi meninggalkan Lei Ann yang mematung disana menuju ruangannya.

Tidak ada komentar: